JAKARTA - Investasi global di sektor transisi energi mencatat pertumbuhan 8% menuju rekor US$2,3 triliun atau sekitar Rp38.410 triliun pada 2025. Torehan ini terjadi meskipun kekhawatiran mengenai perubahan lanskap politik dan ketidakpastian ekonomi sempat membayangi pasar.
Sekitar US$1,2 triliun dari total investasi mengalir ke sektor energi terbarukan dan jaringan listrik. Dua sektor ini berperan penting untuk memenuhi lonjakan kebutuhan listrik dari pusat data secara global.
Sektor transportasi berbasis elektrifikasi, termasuk kendaraan listrik dan infrastruktur pengisian dayanya, menyerap investasi US$893 miliar. Pertumbuhan ini didorong oleh permintaan kuat dari kawasan Asia dan Eropa.
Albert Cheung, Deputy CEO BloombergNEF, menilai bahwa meski ada hambatan kebijakan dan perdagangan, transisi energi tetap menunjukkan ketangguhan. “Tahun lalu menghadirkan berbagai peluang bagi investor,” ujarnya, dikutip Selasa, 27 Januari 2026.
Distribusi Investasi di Asia dan Eropa
Kawasan Asia Pasifik memimpin investasi dengan kontribusi hampir separuh total belanja global. Negara-negara seperti China, India, dan Jepang menjadi motor utama investasi teknologi transisi energi pada 2025.
Sementara itu, Uni Eropa mencatatkan investasi US$455 miliar atau naik 18% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan komitmen benua tersebut dalam memperkuat infrastruktur energi bersih.
Di sisi lain, pertumbuhan investasi di Amerika Serikat lebih lambat. Hal ini terkait kebijakan pemerintah yang mengurangi dukungan pada beberapa teknologi bersih dan memperketat pengembangan energi terbarukan.
Meski begitu, investasi energi hijau di AS tetap mencapai US$378 miliar atau naik 3,5% dari 2024. Hal ini menunjukkan bahwa sektor swasta tetap mendorong pertumbuhan energi bersih meski dukungan pemerintah terbatas.
Tantangan dan Hambatan Global
Arus modal ke energi bersih meningkat saat investasi global di bahan bakar fosil menurun. Penurunan ini pertama kali terjadi sejak 2020, terutama akibat berkurangnya belanja pada operasi hulu minyak dan gas serta pembangkit listrik berbasis fosil.
Meski investasi meningkat, laju pertumbuhan dinilai masih belum cukup cepat. Target pencapaian nol emisi bersih menuntut skala pendanaan yang jauh lebih besar.
Reformasi regulasi di China meredam aktivitas pasar terbesar dunia. Akibatnya, pendanaan energi terbarukan global turun 9,5% secara tahunan pada 2025.
Investasi transisi energi di China mencatat penurunan pertama sejak 2013. Meski demikian, China tetap menjadi investor terbesar secara global, menegaskan peran strategisnya di sektor energi bersih.
Hidrogen dan energi nuklir juga mencatat penurunan investasi pada tahun lalu. Namun, minat perusahaan teknologi meningkat untuk menjamin pasokan listrik stabil bagi pusat data.
Proyeksi dan Kebutuhan Investasi Mendatang
Pertumbuhan investasi transisi energi 2025 merupakan pertumbuhan satu digit pertama sejak 2019. Kondisi ini menunjukkan bahwa dunia masih tertinggal dari target belanja energi bersih yang dibutuhkan untuk mitigasi perubahan iklim.
BloombergNEF memproyeksikan investasi transisi energi harus mencapai US$5,2 triliun per tahun sepanjang sisa dekade ini. Angka tersebut diperkirakan akan meningkat lebih tinggi setelahnya untuk mencegah dampak terburuk perubahan iklim.
Albert Cheung menekankan bahwa upaya banyak negara memperkuat ketahanan energi dan membangun rantai pasok domestik menjadi faktor penting. “Investasi energi bersih akan terus meningkat, terutama yang berkaitan dengan pembangunan pusat data secara global,” ujarnya.
Meskipun ada hambatan kebijakan, geopolitik, dan perdagangan, sektor transisi energi menawarkan peluang besar. Investor yang cepat menyesuaikan strategi akan bisa memanfaatkan momentum pertumbuhan global ini.
Pertumbuhan investasi juga membuka peluang kerja dan inovasi teknologi. Sektor kendaraan listrik, penyimpanan energi, dan jaringan pintar menjadi bidang utama yang terus menarik modal global.
Dengan tren investasi saat ini, diharapkan ada percepatan adopsi energi bersih di berbagai belahan dunia. Hal ini krusial untuk menjaga target iklim sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi hijau.
Meski investasi meningkat, pengawasan dan regulasi tetap diperlukan agar modal tersalur secara efektif. Proyek yang kurang matang atau kebijakan yang tidak jelas bisa menghambat percepatan transisi energi.
Secara keseluruhan, rekor investasi US$2,3 triliun menunjukkan optimisme pasar terhadap energi bersih. Namun, dunia masih memiliki pekerjaan besar untuk mencapai target nol emisi bersih.
Pertumbuhan investasi energi bersih tetap menghadapi tantangan dari regulasi, pasar, dan geopolitik. Sinergi antara pemerintah, investor, dan sektor swasta menjadi kunci percepatan transisi energi global.